PSSI Berencana Batalkan Liga 1 dan Liga 2, Asosiasi Pemain Berontak

APPI Indonesia
banner 468x60

VIVA Bola – Kebijakan kontroversi diambil PSSI dalam menyikapi wabah virus corona COVID-19. Mereka meminta kepada klub peserta Liga 1 dan 2 melakukan pemotongan gaji ke pemain dalam jumlah yang cukup besar.

Wabah virus corona yang menghantam Indonesia membuat kompetisi Liga 1 dan 2 berhenti sementara dan terancam batal. Dalam kondisi ini, PSSI menginstruksikan agar klub memberikan 25 persen dari nilai kontrak ke para pemainnya, andai kompetisi berhenti total.

Read More
ac milan

Nyatanya, kebijakan ini belum disetujui para pemain, Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia sudah lebih dulu bersuara. Mereka dengan tegas menolak kebijakan PSSI karena keputusan itu tak didasari atas diskusi dengan pemain.

Pun, ada pemain pula yang menyuarakan pendapatnya. Bek Bhayangkara FC, Ruben Sanadi, merasa akan ada pihak yang dirugikan atas kebijakan PSSI.

View this post on Instagram

Seperti yang kita ketahui, industri sepakbola profesional dunia, tidak hanya Indonesia sedang terhenti. Induk organisasi sepakbola, yaitu FIFA dan FIFPro tengah membicarakan solusi terbaik dalam situasi saat ini. Kemarin, PSSI mengeluarkan SK PSSI No. 48.SKEP/III/2020 tentang Kompetisi Liga-1 dan Liga-2 musim 2020 dalam status keadaan tertentu darurat bencana cirus corona (covid-19). APPI telah berkirim surat kepada PSSI untuk menyatakan keberatan atas SK tersebut. Keberatan kami atas beberapa pertimbangan: . – Pengambilan keputusan tersebut tidak melibatkan pesepakbola sebagai stake holder dan juga salah satu pihak yang paling terdampak dalam hal ini; . – Keputusan pembayaran gaji sebesar 25% sejak Maret-Juni merupakan hal yang seharusnya disepakati oleh kedua belah pihak karena perubahan Kontrak Kerja wajib dilakukan dengan kesepakatan antara Klub dan Pesepakbola, tidak bisa dilakukan sepihak; . – Klub wajib melakukan pembayaran DP dan gaji hingga bulan Maret 2020 sesuai dengan kontrak kerja antara klub dengan pesepakbola; . – APPI meminta untuk segala keputusan terkait kompetisi yang berimplikasi dengan kontrak pemain untuk melibatkan kami sebagai perwakilan pesepakbola di Indonesia. . – Dalam tingkat global pun masih terjadi pembahasan dan diskusi FIFA dengan FIFPro dan AFC dengan FIFPro Asia/Oceania. . Kami meminta adanya pertemuan dan pembicaraan yang melibatkan semua stake holder tanpa terkecuali dengan dasar saling respect dan fair untuk mencapai solusi yang bisa diterima oleh semua pihak. Salam Profesionalitas, APPI #APPI #PesepakbolaBersatu #proteksi #edukasi #solidaritas

A post shared by Official Instagram of APPI (@appi.official) on

Ruben sejatinya tak bermasalah dan menerima keputusan jika menerima bayaran 25 persen andai kompetisi berhenti total. Namun, dia menyayangkan jika seluruh klub mengambil kebijakan yang sama karena nominal gaji pemain tak semuanya tinggi.

“Kalau saya, sebagai pemain, menerima saja. Tapi, kasihan teman-teman pemain yang memiliki gaji yang tidak tinggi. Kasihan, kalau mereka mendapatkan 25 persen. Karena, ada keluarga yang harus dihidupi. Mungkin kalau 50 persen itu lebih baik,” kata Ruben.

“Ya, memang ada teman pemain, yang curhat. Kasihan juga mereka. Kan ada pemain-pemain muda yang baru main di Liga 1 dan Liga 2, gaji mereka tak sama juga dengan label bintang atau Timnas,” lanjutnya.

Di sisi lain, Ruben masih menunggu kebijakan dari manajemen Bhayangkara. Meski begitu, Ruben mengerti kondisi yang dihadapi di sepakbola nasional begitu rumit. Sebab, ketika wabah virus corona meledak di Indonesia, aktivitas bisnis sepakbola nasional mendadak mati.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.