VIVA Bola –Â Namun, Aceh United, yang namanya menandakan niat mereka untuk menjadi sebuah tim yang menyatukan para pendukung keempat tim ini dan tim-tim Aceh lainnya secara luas dicemooh dan dicerca dalam setiap pertandingan kandang oleh orang-orang yang diharapkan dapat mendukung mereka.
Menurut Ilyas, Aceh United telah mengabaikan hal terpenting yang harus mereka lakukan untuk memenangkan hati orang-orang di Aceh – memainkan bakat pemain lokal Aceh. Tidak ada bakat lokal yang direkrut oleh tim ini, baik dari Persiraja, PSAP, PSSB, PSLS, atau tim kecil lainnya di wilayah Aceh.
Ini karena sifat ilegal dari LPI – FIFA hanya mengakui liga-liga yang disetujui PSSI sebagai liga sepakbola kompetitif Indonesia, dan dengan demikian para pemain enggan untuk beralih ke liga yang akan memberi mereka sanksi, terutama ke 15 klub yang dibuat khusus untuk liga ini.
LPI tidak bertahan lama dan setelah 50% musim kompetitif dimainkan, liga ini akhirnya gulung tikar. Ini menyebabkan periode yang sangat kacau di sepakbola Indonesia di mana PSSI berusaha untuk mengadopsi LPI ke dalam sistem mereka.
Ke 15 klub yang diciptakan untuk LPI akhirnya memiliki nasib yang berbeda – Minangkabau FC bergabung dengan Persik Kediri, Bandung FC bergabung dengan Persiba Bantul, dan Bali Devata digabung dengan Persires Rengat. Jakarta FC dan Bintang Medan masing-masing menjadi klon dari Persija Jakarta dan PSMS Medan, dengan Persija dan PSMS mengalami dualisme manajemen yang disebabkan oleh perpecahan liga yang menjadi dua.
Sisanya menghilang ke dalam ketidakjelasan – termasuk Aceh United. Klub ini bergabung dengan Persiraja, mengingat klub Lantak Laju telah lebih mapan dalam pengelolaan bakal lokal.
Pada tahun 2017, sepak bola Indonesia akhirnya pulih dari penangguhan FIFA dan piramida liga yang baru akhirnya didirikan. Liga 3 adalah level terendah sepakbola Indonesia, dengan berbagai liga regional dimainkan secara simultan sebelum tim terbaik dari setiap liga bertarung dalam putaran nasional untuk promosi ke Liga 2 yang jadi kasta kedua.









